Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juni 2009

BSM


Hujan gerimis masih melanda bandung malam itu, setelah berputar dekat patung tank.parkiran  BSM(bandung super mall) mulai tampak, tidak seperti biasanya. BSM malam itu sepi, mungkin karena hujan dari tadi sore. 
sebelum masuk parkiran, rumah sengketa yang berada tepat disebelah pintu parkiran motor tetap kokoh berdiri. terkadang aku berpikir, apa orang yang punya rumah ini tidak merasa risih dengan keadaan disekitarnya? Atau, orang ini memiliki idealis berbeda dengan orang lain dalam masalah rumah. Yah, aku mengagumi pemilik rumah ini, bagaimana aku tidak kagum, rumah ini sudah ditawar milyaran oleh BSM untuk dibeli tapi tetap saja sang pemilik tidak mau melepasnya.
Masuk kedalam parkiran BSM, ada hal yang aku rasa berubah. Biasanya ketika masuk kedalam parkiran motor, tiket diambil secara otomatis. Tapi malam ini beda, tiket diambil secara manual di post parkir. 
genangan-genangan air terlihat merata di parkiran BSM, karena tujuanku datang kesini adalah untuk menjemput papaku, maka motor aku parkir dekat pintu masuk ke dalam Mall. Saat itu ponco masih aku kenakan, ketika aku mulai melepas ponco, anak-anak kecil sebaya adikku salsa mulai memayungiku, sembari berkata, a payung a? dengan tatapan sopan dan baik. Aku hanya berkata, ga usah dek, ga papa kok, makasih ya...
Kemudian aku berjalan di plasa BSM, rupanya di plasa BSM penuh dengan anak-anak kecil yang berprofesi sebagai ojek payung. yah wajar, pemandangan di bandung memang seperti ini, kota metropolitan yang mulai banyak anak jalanannya. Sebari berjalan menuju loket primajasa jurusan bandara SoeTta, mataku tetap mengawasi anak-anak kecil itu bermain hujan-hujan sambil menawarkan jasa ojek payung kepada para pengunjung mal yang tampak menunggu hujan reda. 
Tiba-tiba, telingaku mendengar seorang anak kecil memanggil nama temannya. yang kebetulan nama itu lumayan akrab di telinga. Mataku mulai memperhatikan anak kecil yang dipanggil namanya itu, usianya kira-kira baru 6 tahun dan badannya sangat kecil serta sangat kontras dengan payung yang dibawanya, maklumlah payung yang disewakan anak-anak itu berukuran besar.  Anak perempuan itu bernama ayud, dia asik bermain bersama sesama anak-anak lain. dia berlari kesana kemari dengan girang. wajah kelelahan pun tidak kulihat diwajahnya, benar anak-anak emang anak-anak, hidupnya tanpa beban, tak ada masalah hanya bergembira.
yah, sangat kontras dengan Ayud lain yang aku kenal sebagai teman di kampus. Ayud kecil ini hidup dengan sangat sederhana, menawarkan payung kepada orang yang tidak dikenal. bahkan rela berhujan-hujan ria dan mempertaruhkan kesehatannya hanya untuk beberapa ribu uang yang keluar dari kantong-kantong orang kaya yang berplesiran di BSM. ayud kecil ini tidak ada kesempatan untuk bersantai dihadapan televisi bersama ayah dan ibunya untuk sekedar menonton sinetron bersama, tidak ada waktu untuk mengulang pelajaran sekolahnya atau sekedar merapikan buku catatannya, tidak ada waktu untuk makan bersama diatas meja makan bersama keluarganya, tidak ada waktu untuk bermanja-manja dengan ayah dan ibunya. karena dia ada di BSM sedang menawarkan payungnya, rasa kedinginan, kecapaian hilang oleh kecerian di wajahnya. Anak ini bahagia, itu pikirku. Bahagia bukan karena harta keluarga atau apa, kita bahagia karena kita ingin bahagia. kita sengsara karena kita ingin sengsara... 
Ya inilah dunia kita... roda kehidupan tetap berputar. 

Selasa, 24 Maret 2009

Lovina, Kintamani, dan Tampak Siring


            Saya yakin, semua pantai selatan memeliki pantai yang indah. Begitu juga pantai selatan di pulau bali. Keindahan pantai selatan di pulau bali sudah melegenda dan menjadikan daerah selatan sebagai pusat kegiatan manusia dan wisata. Walaupun demikian ada sebuah pantai di wilayah utara tepatnya di singaraja yang mempunyai daya tarik yang berbeda.

            Lovina namanya, perjalanan menuju lovina dari denpasar bagaikan berjalan dari ujung selatan pulau bali ke ujung utaranya. Kira-kira membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Selama perjalanan saya menyaksikan pemandangan yang menyejukkan mata. Singaraja masuk dalam wilayah kabupaten Buleleng. Nama Buleleng mengingatkan saya kepada peristiwa tawan karang pada masa kolonial dahulu. Nama-nama raja bali yang dipelajari pada masa SD dahulu seperti terulang kembali. Yah memang didaerah singaraja inilah belanda mulai menancapkan kekuasaanya di bali.

           pantai lovina

 Pesona yang dimiliki oleh lovina bukan keindahan pasir putihnya, melainkan keindahan flora dan fauna lautnya. Sudah menjadi salah satu daya tariknya adalah pertunjukan lumba-lumba secara langsung yang bisa disaksikan diatas perahu ditengah lautan lepas. Kemudian snorkling (salah penulisan mohon dimaklumi) menyelam melihat taman laut.

            Untuk melihat beberapa wisata di lovina, saya dan zein menyewa sebuah perahu dengan harga 120.000 satu perahu untuk mencari lumba-lumba. Kami berangkat jam 9 pagi, pencarian lumba-lumba kami berlangsung selama 1 jam lebih. Sayangnya saya dan zein belum melihat lumba-lumba.

       perjalanan mencari lumba-lumba

     Saya bertanya kepada pemilik perahu, ’pak, kenapa lumba-lumbanya tidak nampak?’. Pemilik perahu berkata, ’sepertinya mereka berenang ke tengah mas, mencari lumba-lumba itu untung-untungan mas. Tidak ada kepastian waktu kapan mereka muncul.’. mendengar hal tersebut apa daya lagi, walaupun sedikit kecewa. Pemilik perahu menunjukkan lokasi penyelaman dan sorkling yang bagus. Dikarenakan tidak membawa baju ganti, sayapun malas untuk berenang. O ya, sewa snorkling 60 ribu satu orang.

            Jam 12 siang, kami keluar dari singaraja. Tujuan berikutnya adalah kintamani. Kintamani adalah suatu tempat wisata dimana kita dapat melihat view gunung batur dan danau batur secara dekat. Perjalanan ke kintamani sekitar 2 jam dari singaraja. Karena kami kembali lagi menuju denpasar.

            Jalan ke kintamani berbeda dengan jalan ke singaraja. Jalannya kecil dan petunjuk jalan sangat sedikit. Sehingga saya sering kali turun dari  mobil untuk menanyakan arah menuju kintamani. Sesampai didaerah kintamani yang berlokasi di sebelah timur denpasar melewati kota gianyar, saya berkesimpulan bahwa didaerah ini rata-rata masyarakat pada umumnya sangat patuh pada adat, dilihat dari sepinya rumah penduduk dan jauhnya mereka dari kebudayaan modern. Penduduk bali didaerah sini masih sederhana.

view dari kintamani

            Sesampai di kintamani jam setengah 3 sore. Saya dan zein beristirahat ejenak di pinggir jalan. Zein mengeluarkan hp kameranya dan mulai mengambil gambar-gambar. Gunung batur terlihat berdiri gagah dihadapan saya. Sedangkan danau batur di sebelah kanan saya menunjukkan keindahannya. Disisi danau batur terlihat sebuah kampung tradisional, ketika saya menanyakannya kepada penjual souvenir. Dia mengatakan itulah yang dinamakan Trunyan. Trunyan adalah tempat dimana mayat seseorang tidak dibakar ataupun dikubur, melainkan mayat tersebut diletakkan di bawah pohon. Selain itu trunyan juga merupakan tempat isolasi bagi penderita kusta. Dikarenakan waktu yang sempit saya tidak memiliki keinginan untuk berkunjung ke danau batur dan trunyan.

danau batur, desa dipinggir danau adalah trunyan

gunung batur

            Perjalanan saya lanjutkan kembali menuju tampak siring, sebuah wilayah dimana presiden soekorno diasingkan dahulu. Ustadz saya di ma’had dulu pernah bercerita, ketika dia kecil. Dia sering berlari-lari di belakang istana tampak siring, dan dibelakang istana ada sebuah pemandian. Pada tahun 70an pemandian tersebut masih terbuka dan tampaklah para gadis sedang mandi disana (sori rada bb).

istana tampaksiring

            Wilayah tampak siring memang kaya akan sumber air. Akan tetapi saya tidak memiliki waktu untuk masuk dan menikmatinya. Saya menuju istana dan ternyata ada sebuah peraturan baru yang melarang pengunjung memasuki istana secara bebas. Sekarang ada prosedur-prosedurnya, harus buat surat sebelumnya, ada izinnya dan lain-lain. Kecewa dengan hal itu maka pulanglah saya ke denpasar dengan hati setengah senang.

           

 

 

Sabtu, 21 Maret 2009

Antara Dream Land, Nusa Dua, dan Kuta




Hari kedua di bali, sekarang rencananya adalah lihat-lihat pantai. Saya berangkat dari rumah zein setelah shalat dzuhur. Tujuan pertama kita adalah pantai dreamland. Kata zein pantai dremland lebih bagus dari pada pantai kuta. Perjalanan ke dreamland lumayan jauh, sekitar 30 menit dari denpasar melewati sunset road.
Masuk ke dalam area kampus Udayana dan jalan kearah GWK (garuda wisnu kencana), gwk itu semacam pusat kebudayaan di bali gitu. Disana sedang proses pembangunan pantung wisnu menaiki garuda. Tapi ketika saya ke bali tahun 2003 dahulu pembangunannya sampai sekarang belum juga selesai.
Di pinggir jalan banyak baliho raksasa yang mengiklankan tentang resort-resort di kawasan tersebut. Akhirnya kita masuk kedalam kawasan yang namanya Pecatu Indah Resort. Rupanya konsep pecatu ini sama dengan konsep Nusa Dua.


Sebuah konsep properti yang didalam satu kawasan terdapat resort, pantai, golf dan perumahan elit untuk orang yang berduit lebih tentunya. Setelah masuk, kawasasn pecatu ini merupakan area yang masih dalam proses pengembangan. Sehingga didalamnya terlihat maih belum rapi dan banyak bangunan sedang dalam proses pembangunan.
Karena gerbang masuk pecatu berada di atas dan pantai berada di bawah, maka view pantai yang indah akan terlihat dari atas, bahkan akan terlihat pula pantai kuta di sebelah kanan. Walaupun masih dalam pengembangan jalan di pecatu sudah diaspal kok. Jadi perjalanan kesana nyaman dan menyenangkan.
Sesampai di gerbang masuk dreamland, motor kita parkir di lahan yang sudah disediakan preman bali. Lokasi parkiran boleh dibilang masih jadul n jelek banget. Masih pasir dan berbatu-batu. Dari parkiran menuju ke pantai perjalanan sekitar 300 meter.
Turun menuju pantai kita akan jalan melewati kafe-kafe. Kafe ini jangan dibayangkan seperti di pinggir jalan. Tapi kafe ini seperti warung yang ada di pinggir jalan-jalan kecil di tangkuban perahu. Bedanya di tangkuban perahu didepan kafe ada kawah dan di dreamland di depan kafe ada sungai yang menuju ke laut. Diujung jalan kafe ini barulah pantai dreamland.
Sesuai dengan namanya, pantai yang satu ini memang bagus dan indah. Menurutku nusa dua, kuta, dan sanur kalah jauh dengan keindahan pantai ini. Pasir putih dan topografi pantai membuat saya kagum. Pantai dreamland ini, kata zein merupakan tempat dimana para artis dalam negeri berkunjung. Dan tempat orang-orang bule berjemur. Dan zein memang benar, saya jarang melihat orang indonesia berlibur di pantai ini. Kebanyakan orang bule dan jepang. 






Tapi pesona pantai ini masih kalah dengan pantai di daerah lombok, saya yakin itu. Setelah puas poto-poto, kami menuju parkiran bersiap menuju nusa dua. Rupanya tukang parkirnya sialan masa parkir motor 3 ribo. Biaya-biaya lainnya gratis cuman bayar parkir/pungli doang ke dreamland.


Nusa dua, adalah sebuah tempat resort terpadu yang dikelola secara profesional. Dan namanya sudah terkenal diseluruh dunia. Bahkan ada sebuah jargon yang menyatakan bahwa kalau bule yang berlibur ke kuta itu bule miskin, tapi bule yang ke nusa dua itu bisnisman.
Jargon itu memang benar karena nusa dua emang beda dengan kawasan bali lainnya. Disana terlihat seperti komplek perhotelan elit, dan masing-masing hotel memiliki pantai masing-masing, yang khusus diperuntukkan bagi pengunjung hotel. Sedangkan bagi wisatawan lokal/berkantong tipis yang ingin menikmati nusa dua, hanya dipersilahkan melihat pantai paling ujung yang diapit dua pulau kecil (jadi pulau kalau lagi pasang doang).




Walaupun begitu, suasna pantai nusa dua yang saya nikmati kemarin terasa berbeda dengan nusa dua pada tahun 2003, perbedaanya ketika tahun 2003 saya menikmati pantai ketika air sedang pasang. Dan kini saya menikmati pantai ketika sedang surut sekali, sekitar 100 meter dari ujung pantai. Sehingga tampak biota-biota laut dan karang.
Kawasan nusa dua memiliki banyak pepohonan, sehingga saya tidak merasakan panas matahari pantai. Objek lain yang menarik hati saya adalah adanya pura di salah satu pulau kecil di nusa dua. Kemudian saya pergi ke ujung pulau tersebut dan mendapati sebuah batu karang yang indah.




Setelah bosan melihat pantai nusa dua, saya dan zein berkeliling di kawasan nusa dua dengan menggunakan sepeda motor kami. Saya banyak melihat turis-turis mancanegara sedang berjalan-jalan menikmati keindahan sore hari. Ketika akan pulang saya melewati sebuah balon udara besar yang dipergunakan untuk wisata. Pikiran saya membayangkan bahwa balon ini terbang diatas pantai-pantai selatan bali.
Keluar dari daerah nusa dua, saya mendesak zein untuk pergi ke kuta. Akhirnya zein pun mau untuk pergi kekuta, perjalanan ke kuta memakan waktu sekitar 30 menit juga. Sebelum ke kuta, saya dan zein pergi ke bandara Ngurah Rai untuk melihat bandara dan mencari masjid untuk shalat ashar. Jam 5 sore kita ke kuta.

patung di ngurah rai

Kuta, saya lebih senang menyebutnya sebagai kota. Karena kondisi kuta tampak bagi saya seperti kota, memiliki banyak hotel dan tempat perbelanjaan modern. Sedangkan jarak ke denpasar lumayan jauh. Jadi apa salahnya menyebutkan kuta adalah kota tersendiri.
Pantai kuta termasuk pantai yang panjang, kita memarkirkan motor dekat dengan hardrock cafe 1000 sekali parkir. Tekad saya saat itu adalah melihat sunset di kuta. Ketika melihat jam di hp, ternyata sunset masih 1 jam lagi. So, saya dan zein memiliki inisiatif untuk berjalan-jalan menikmati kota kuta.


Sore hari tersebut suasana kuta lumayan ramai, wisatawan asing banyak yang keluar untuk menikmati sunset, maklum cuaca pada saat itu sedang cerah. Saya dan zein berjalan menyusuri toko-toko di kuta yang suasananya nampak seperti kota-kota di luar negeri. Perjalanan itu menuntun saya ke kawasan legian di tugu peringatan bom bali. Tugu yang lumayan megah, dandisana tertampang nama-nama korban bom bali.



Traveler sejati harus menggunakan kakinya untuk berjalan. Kemudian kita masuk kedalam gang kecil yang langsung tembus ke pantai kuta. Toko-toko souvenir dan kedai seafood banyak terdapat dalam gang ini. Pandangan zein tertarik pada sebuah toko dvd bajakan, kami masuk kedalam toko dan membeli sebuah film hollywood.
Yang saya sangat kaget ketika mendengar pelayan menyebutkan harga film sebesar 15.000 rupiah satu dvd, 2X lipat dari harga dvd di kota kembang bandung. Pikirku, bisa kaya nih kalau jualan dvd bajakan.

Akhirnya, pantai kuta yang terkenal sudah didepan mata kita. Sore itu pantai kuta memang benar-benar sangat ramai sekali. Jalanan didepan pantai sudah sangat macet. Wisatawan lokal dan mancanegara sudah bercampur baur. Sulit dibayangkan jika tsunami terjadi berapa puluh ribu yang akan menjadi korban.
Pasir pantai kuta berwarna putih diatas dan hitam di bawah, kebetulan saat itu air sedang surut. Pantai kuta tidak seperti kuta 2003 dulu. Kini telah menjadi pantai yang kotor. Walaupun masih tersisa sedikit keindahannya. Mengenai ombaknya masih seperti dulu besar dan asyik untuk surf.
Di pinggir pantai banyak orang menyewakan papan-papan surfing dan banyak juga orang bule berjemur dengan memakai kota sponge bob. Beberapa saat saya terdiam menikmati suasana pantai kuta, saya melihat ke arah kiri dimana disitulah tempat melihat sunset yang bagus. Pikiran saya memerintahkan untuk menuju ke karang.



Feeling saya benar kali ini, karang lokasi ini memang bagus. Beberapa fotografer pro sudah mulai berjejer menunggu datangnya sunset. Sayang saya tidak memiliki kamera yang mumpuni. Hanya mengandalkan kamera hp zein saja. Hasil gambar sunset pun tidak terlalu bagus. Selesai dengan itu semua kami pulang menuju rumah zein.



Selasa, 24 Februari 2009

Danau bedugul



Ketika hati sudah bosan berada di kebun raya, kami membuat dua pilihan. Pilihan pertama adalah pergi ke pembangkit listrik dan pilihan kedua pergi ke danau untuk naek perahu. Setelah mengalami diskusi panjang, akhirnya keluarlah danau sebagai solusi yang menarik. Dikarenakan lokasi danau berada sangat dekat dengan kebun raya. Bahkan dari kebun raya ada lokasi yang dapat melihat danau/view danau.


Kita kembali ke mobil dan langsung meluncur ke jalan raya denpasar singaraja. Tidak sampai lima menit, pemandangan danau sudah terlihat. Danau bedugul adalah objek wisata yang terkenal di indonesia maupun mancanegara. Danau ini sangatlah indah karena dikelilingi perbukitan yang masih hijau. Apalagi disana terdapat pura yang berada sedikit menjorok ke danau.

Untuk tempat parkir didanau, ada 3 tempat. Yang aku tahu ada 2 tempat, pertama sebelum pintu masuk danau resmi (istilah gw) yaitu sebuah parkiran mobil yang disana terdapat dermaga perahu dan boat. Kedua di pintu masuk danau resmi, daerah ini sangat ramai, di pintu masuk resmi ini ada beberapa pura, pura yang menjorok ke danau ada di lokasi ini dan ada juga beberapa taman yang enak dipandang.

Karena kepingin naik perahu maka tempat perberhentian yang dipilih adalah opsi pertama. Setelah mempaskan mobil, kami berjalan menuju dermaga boat dan perahu. Kebetulan aku bertemu dengan alumni Assalaam dulu, dia adik kelasku. Setelah basa basi rupanya dia habis naik boat n mau langsung balik ke denpasar.

Sampai didermaga, yah bisa dikatakan dermaga karena banyak perahu-perahu yang merapat dan tempat naik-turunnya penumpang. Dari dermaga ini, terlihat danau dengan view yang indah, lurus arah dermaga agak kekanan sedikit. Disana ada dermaga yang agak besar, yang berisi banyak boat, jetski, n paralayang perahu. Ini maksudnya tempat parkiran ketiga. Sayangnya waktu itu aku gak sempat menanyakan dimana daerah tersebut pada penduduk sekitar.

Karena kita banyakan waktu itu, terpaksa memakai asas musyawarah. Didapat kesimpulan, naik boat maksimal 5 orang dengan biaya rp. 180.000,00. dan rp. 150.000,00 dengan maksimal penumpang 3 orang. Untuk jetski dan paralayang lokasi berada di dermaga satu lagi. Biaya tersebu diatas dengan fasilitas keliling danau sekali dan ada baju pelampungnya. Selain perahu bermotor, disana juga disediakan perahu berkekuatan semangat. Perahu berkekuatan semangat hanya Rp. 60.000,00 per perahu dan muat 5 orang. Itu tanpa pendayung alias dayung sendiri, kalau tambah pendayung harga untuk pendayung bisa nego.

Tanpa nunggu lama kita langsung naek perahu, model perahunya seperti perahu biasa tapi ada tambahan penyeimbang dikanan dan kirinya. Kita berlima memegang sebuah dayung. Sehingga ketika perahu sudah meluncur dan lepas tali tambatnya, langsung saja kita semua ngedayung perahu.

Waktu pertama ngedayung semuanya masih pada semangat, kita malah memiliki rencana untuk ngedayung sampai ujung danau. Karena kita penasaran dengan desa yang berada di ujung danau. Saat itu aku berpikir itu adalah trunyan, trunyan adalah tempat perkuburan adat bali. Dimana mayat orang yang telah meninggal disemayamkan tidak dengan dikubur atau dibakar melainkan di taruh di bawah pohon sampai menjadi tulang-belulang.

Ngedayung itu rupanya punya cara, tidak bisa kita ngedayung asal ngedayung, perlu adanya kerjasama dan keseimbangan dan ada juga pengatur arah yang berada di bagian belakang. Kalau ritmenya kacau, arah akan berubah dan tenaga yang dikeluarkan akan sia-sia belaka.

Setelah mendayung beberapa menit, sampailah kami hampir ditengah danau. Setelah foto-foto dikit, aku nyeletuk ”gmn, kalo kita ke pura itu?”. Rupanya celetukkanku disambut baik. Jadi kita ngedayung lagi menuju pura, boat-boat banyak berkeliaran dipinggir-pinggir danau dan pura juga merupakan tujuan kunjungan mereka. Bukan kunjungan singgah hanya kunjungan berhenti untuk melihat dari atas boat.

Karena boat menggunakan mesin, ombak yang dibuatnya juga besar. So perahu kami sering kali terombang-ambing oleh ombak yang dibuat oleh boat maupun jetski. Setelah perjuangan keras sampailah kami dipinggir pura. Cuaca saat itu berawan juga, sehingga hasil foto kamera kurang bagus. Dari atas perahu kami mencoba menjalin komunikasi dengan beberapa turis asing. Komunikasi yang dimaksud adalah melambai-lambaikan tangan kepada mereka, dan mereka melambai-lambaikan tangan kepada kita. Maklum, perahu yang menggunakan tenaga semangat jarang sampai disana. Soalnya perjalanan lumayan jauh dan melelahkan.

Ambil beberapa gambar n kita perjalanan pulang menuju dermaga, yah tukang dayungnya dah pada capek sehingga ritmenya dah kacau. Sampai di dermaga rasanya seneng banget n capek banget. Temen-temen yang lain pada pingin makan bakso malang untuk ngisi tenaga yang terpakai buat ngedayung. Sedangkan aku, zein dan helmi memiliki ide lain. Idenya adalah ’gimana kalau kita ke pura!’.


Tanpa melapor, kami langsung berangkat menuju gerbang masuk resmi danau dan pura bedugul. Karena tempatnya lumayan dekat so jalan kaki aja deh. Pertama masuk ke wilayah ini, sudah terlihat banyak orang menjajakan oleh-oleh dan pernak-pernik bali. Wisatawan asing juga banyak, karena sore hari aku langsung saja masuk ke lokasi. Sedangkan zein dan helmi, karena mereka adalah penduduk bali yang taat pada peraturan. Mereka membeli tiket masuk sebesar 12 ribu, tanpa bukti tiket atau kertas apapun.

Karena tidak mau memperpanjang masalah dan tidak ingin membuang waktu. Langsung kita berjalan menyusuri jalan yang menurun. Nampak gerbang masuk khas bali, dan beberapa tempat sesajen. Suasana diluar gerbang sangat asri dan indah, kebersihan dan kerapian nampak disana sehingga hatipun enak. Melewati gapura, nampak pura disebalah kiri dan kanan, sedangkan didepan danau dan pura yang menjorok kedanau. View ini sangat indah, objek yang sangat bagus untuk difoto.


Di pinggir danau, kita mengambil beberapa gambar dekat dengan pura yang menjorok kedanau. Sebenarnya pura ini punya nama, tapi aku lupa namanya. Pura ini juga sering mucul di televisi. Sayangnya teratai pura ini tidak ada yang mekar ketika kita datang.


Sudah puas dengan ini semua, dan sudah muak dengan keindahan ini semua. Dan tidak lupa bersyukur kepada Allah yang telah menciptakan alam ini dan aku mampu melihatnya. Saatnya pulang menuju denpasar. Karena kita pergi ke pura tidak memberi kabar kepada teman2 yang lain, so kita menerima konsekuensi untuk mendapat ceramah sore. Jam 5.30 wita kita pulang ke denpasar.

Rabu, 18 Februari 2009

Kebun Raya Bali




Suasana yang hijau dan asri di kebun raya bogor rupanya dapat disaingi oleh kebun raya bali. Suasana yang dingin dan asri di daerah bedugul, membuat kebun raya ini menjadi primadona bagi warga bali dan turis yang sedang berlibur.

Kebun raya bali yang bernama eka karya terletak dikawasan bedugul-bali, 30 menit dari denpasar kalau berangkat pada pagi hari dengan menggunakan kendaraan pribadi. Atau bisa menggunakan mini bus dengan jurusan singaraja-denpasar, tapi lama banget nunggunya..

Perjalanan menuju bedugul seperti biasa berkelok-ke

lok dan menanjak, karena bedugul adalah perbukitan. perjalanannya sama seperti menuju puncak. Jikalau cuaca sedang cerah, kita dapat melihat beberapa pegunungan yang ada di bali seperti gunung batur dll. Banyak pemandangan indah dan menarik di sepanjang perjalanan.

Hari Minggu di penghabisan bulan januari, aku, zein dan beberapa kawan pergi ke bedugul, kami berangkat dari denpasar dengan menggunakan 2 mobil. kami berangkat jam 12.00 siang dan sampai di kebun raya jam 13.00. Maklum, hari minggu jalanan ramai.

Planing utama kami adalah bermain bola di kebun raya, kebetulan helmi temanku merupakan anak dari seorang yang punya urusan dengan kebun raya. Sehingga kami mendapat free pass.. harga tiket biasa sekitar 12 ribuan. Sebelum masuk kami membeli nasi bungkus di warung muslim di pasar bedugul. Kemudian kami shalat dzuhur di masjid dekat gerbang masuk.

Setelah selesai shalat, kami langsung masuk ke kebun raya. Yah saat itu cuaca berawan dan lokasi lumayan ramai. Setelah berkeliling untuk cuci mata, mobil akhirnya diparkir dekat dengan lapangan bola.


Kebun raya, yah seperti yang kita bayangkan. Dipenuhi dengan berbagai macam jenis pohon. Mulai dari pohon besar dan kecil, dari jenis palm dan mahoni. Rindang, asri dan bersih, serta kelebihan dari kebun raya ini menurutku, kita dapat melihat danau bedugul dari sisi atas kebun raya.


Untuk berlibur bersama keluarga, bisnis, dan outbond kebun raya ini bisa dijadikan sebuah rekomendasi yang bagus. Karena kebun raya ini juga menyediakan beberapa fasilitas resort.


Kebun raya juga menyediakan peta, sehingga pengunjung dapat melihat posisi dimana berada dan lokasi-lokasi menarik lainnya di kebun raya.

Minggu, 15 Februari 2009

Tips n triknya naik herkules ala gw

  1. Harus punya kenalan/teman atau famili yang kerja di TNI AU yang jabatannya lumayan…
  2. Kalo berani coba jalan-jalan ke pangkalan TNI AU, trus nanya2 ma penjaganya, mungkin bisa dapat naik pesawat dengan beberapa imbalan.
  3. Bawa MP3, walkman atau apa saja soalnya diatas pesawat berisik..n kalo bisa download dulu game di hp banyak2 supaya bisa dimainin diatas pesawat..kalo naik herkules hape gak usah dimatiin kok..
  4. Bawa jaket, walaupun herkules tapi ACnya dingin..
  5. Bawa makanan n minuman soalnya gak ada pramugari yang nawarin makanan loh..
  6. Harus siap 2 jam sebelum berangkat, soalnya jadwalnya bisa saja maju bisa juga mundur..
  7. Pergi ke toilet sebelum terbang karena di pswat toiletnya cuman ditutup ama sejenis kain gitu...

ShoutMix chat widget