Selasa, 09 Juni 2009

BSM


Hujan gerimis masih melanda bandung malam itu, setelah berputar dekat patung tank.parkiran  BSM(bandung super mall) mulai tampak, tidak seperti biasanya. BSM malam itu sepi, mungkin karena hujan dari tadi sore. 
sebelum masuk parkiran, rumah sengketa yang berada tepat disebelah pintu parkiran motor tetap kokoh berdiri. terkadang aku berpikir, apa orang yang punya rumah ini tidak merasa risih dengan keadaan disekitarnya? Atau, orang ini memiliki idealis berbeda dengan orang lain dalam masalah rumah. Yah, aku mengagumi pemilik rumah ini, bagaimana aku tidak kagum, rumah ini sudah ditawar milyaran oleh BSM untuk dibeli tapi tetap saja sang pemilik tidak mau melepasnya.
Masuk kedalam parkiran BSM, ada hal yang aku rasa berubah. Biasanya ketika masuk kedalam parkiran motor, tiket diambil secara otomatis. Tapi malam ini beda, tiket diambil secara manual di post parkir. 
genangan-genangan air terlihat merata di parkiran BSM, karena tujuanku datang kesini adalah untuk menjemput papaku, maka motor aku parkir dekat pintu masuk ke dalam Mall. Saat itu ponco masih aku kenakan, ketika aku mulai melepas ponco, anak-anak kecil sebaya adikku salsa mulai memayungiku, sembari berkata, a payung a? dengan tatapan sopan dan baik. Aku hanya berkata, ga usah dek, ga papa kok, makasih ya...
Kemudian aku berjalan di plasa BSM, rupanya di plasa BSM penuh dengan anak-anak kecil yang berprofesi sebagai ojek payung. yah wajar, pemandangan di bandung memang seperti ini, kota metropolitan yang mulai banyak anak jalanannya. Sebari berjalan menuju loket primajasa jurusan bandara SoeTta, mataku tetap mengawasi anak-anak kecil itu bermain hujan-hujan sambil menawarkan jasa ojek payung kepada para pengunjung mal yang tampak menunggu hujan reda. 
Tiba-tiba, telingaku mendengar seorang anak kecil memanggil nama temannya. yang kebetulan nama itu lumayan akrab di telinga. Mataku mulai memperhatikan anak kecil yang dipanggil namanya itu, usianya kira-kira baru 6 tahun dan badannya sangat kecil serta sangat kontras dengan payung yang dibawanya, maklumlah payung yang disewakan anak-anak itu berukuran besar.  Anak perempuan itu bernama ayud, dia asik bermain bersama sesama anak-anak lain. dia berlari kesana kemari dengan girang. wajah kelelahan pun tidak kulihat diwajahnya, benar anak-anak emang anak-anak, hidupnya tanpa beban, tak ada masalah hanya bergembira.
yah, sangat kontras dengan Ayud lain yang aku kenal sebagai teman di kampus. Ayud kecil ini hidup dengan sangat sederhana, menawarkan payung kepada orang yang tidak dikenal. bahkan rela berhujan-hujan ria dan mempertaruhkan kesehatannya hanya untuk beberapa ribu uang yang keluar dari kantong-kantong orang kaya yang berplesiran di BSM. ayud kecil ini tidak ada kesempatan untuk bersantai dihadapan televisi bersama ayah dan ibunya untuk sekedar menonton sinetron bersama, tidak ada waktu untuk mengulang pelajaran sekolahnya atau sekedar merapikan buku catatannya, tidak ada waktu untuk makan bersama diatas meja makan bersama keluarganya, tidak ada waktu untuk bermanja-manja dengan ayah dan ibunya. karena dia ada di BSM sedang menawarkan payungnya, rasa kedinginan, kecapaian hilang oleh kecerian di wajahnya. Anak ini bahagia, itu pikirku. Bahagia bukan karena harta keluarga atau apa, kita bahagia karena kita ingin bahagia. kita sengsara karena kita ingin sengsara... 
Ya inilah dunia kita... roda kehidupan tetap berputar. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


ShoutMix chat widget