Kamis, 04 Juni 2009

BUDAYA PUNK SEBAGAI COUNTER BUDAYA HEDONISME DI BANDUNG

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang Masalah

Punk adalah sebuah budaya baru yang muncul di era kapitalis sekarang, punk pertama kali muncul di Inggris, dimana Inggris adalah negara yang merupakan ibunya kapitalis selain Amerika. Kemunculan punk di Inggris dimulai pada tahun 1970 an dengan munculnya genre musik baru yang dipelopori oleh sex pistol. Dengan lagunya yang sangat fenomenal, God Save The Queen. Lagu inilah merupakan tonggak awal dari kemunculan punk didunia.

Kemunculan punk di pelopori oleh golongan muda dari kelas menengah kebawah, yang mengkritik aspek sosial dan aspek politik. Setelah muncul di Inggris, gaya hidup punk mulai menyebar di seluruh dunia. Dan mulai sangat berkembang ketika sudah di sukai dan menjadi sebuah trend budaya baru di Amerika.

Punk identik dengan semangat muda, semangat untuk memberontak. Berontak kepada sistem yang ada, berontak kepada sistem yang tidak berpihak pada rakyat. Akhirnya dengan media-media musik punk terus memberontak terhadap penguasa yang ada.

 

 

 

 

 

1.2              Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :

  1. Bagaimana sejarah awal punk, dan sejarahnya di bandung. Dan bagaimana punk sebagai counter budaya hedonis?

 


1.3              Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kepustakaan, penulis menjelaskan permasalahan yang ditentukan berdasarkan data-data kepustakaan.

 

1.4              Kegunaan dan Tujuan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai sumbangan pemikiran bagi para peminat punk, khususnya di Indonesia.
  2. Sebagai penambah wawasan pengetahuan dalam bidang budaya modern.
  3. Sebagai langkah awal bagi peminat berikutnya yang ingin membahas segi lain dari masalah ini.
  4. Sebagai tugas akhir dalam mata kuliah Kajian Budaya di Fakultas Sastra Universitas Padjajaran.

 

1.5              Kerangka Teori

Dalam penulisan makalah ini, akan digunakan teori-teori atau pendapat yang relevan dengan masalah yang akan dikaju. Untuk mengkaji sejarah punk dan budayanya akan digunakan teori Asih (2007).

1.6       Sumber Data

Dari media cetak, pikiran rakyat, punk33metalpower.multiply.com, indonesiaindonesia.com, fsrd.itb.ac.id.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ANALISIS DATA

2.1  Budaya Punk

Punk di bandung lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.
            Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

 

2.2  Sejarah Punk di Bandung dan Indonesia

Masuknya Punk ke Bandung tidak lepas dari pemberitaan media mainstream. Di Indonesia, kultur Punk dikenal pertama kali sebagai bentuk musikal dan fashion statement. Kultur Punk telah hadir tanpa substansi sejak awal. Punk tidak hadir sebagai respon keterasingan dalam masyarakat modern, melainkan dari sebuah kerinduan akan sebuah bentuk representasi baru saat tak ada hal lama yang dapat merepresentasikan diri remaja lagi. Maka tidak heran, apabila hal-hal yang substansial baru muncul bertahun tahun setelah Punk dikenal secara musikal dan fashion statement. Ini adalah sebuah keterlanjuran.

Di Bandung, secara musikal Punk telah dikenal sejak tahun 70an akhir dimana hal ini dibahas dalam majalah remaja Aktuil. Punk juga dibahas dalam majalah Hai pada tahun 80an. Kemudian gaya berpakaiannya juga diadopsi oleh beberapa preman jalannan. Baru di penghujung tahun 80an bermunculan kelompok-kelompok Punk dari kelas menengah karena pada saat itu hanya yang memiliki finansial tinggilah yang dapat mengakses produk dan informasi kultur ini. Jadi pada kesimpulannya, kultur Punk memang hadir di Indonesia tanpa hal-hal yang substansial, ia lahir sebagaimana produk postmodern lainnya, lahir tanpa esensi. Ada banyak hal yang mendorong terjadinya hal-hal ini antara lain karena gap bahasa, gap ekonomi, gap krisis masa muda.

Meskipun akhirnya substansi Punk hadir di Indonesia pada pertengahan tahun 90an melalui akses internet, tak berbeda dengan yang terjadi di negara lain, di Indonesia Punk dianggap sebagai segerombolan remaja biang onar atau sekedar aliran musik keras yang vokalisnya meracau tak jelas. Padahal pada pertengahan tahun 90an, komunita Punk di Indonesia merupakan komunitas Punk dengan jumlah populasi terbesar di dunia.

Penganut kultur punk (Punks) di Indonesia mulai mengadopsi substansi Punk yang termasuk di dalamnya ideologi, etika DIY (Do It Yourself), pandangan politis, dan lain sebagainya. Salah satunya adalah gaya hidup positif Straigh Edge yang menolak konsumsi alkohol, rokok, obat-obatan terlarang, dan perilaku seks bebas.

 

 

 

 

 

2.3  Punk Sebagai Counter Budaya Hedonis di Bandung

Hedonisme, sebuah budaya baru yang mulai menjadi tren di masyarakat bandung kini. Budaya di mana uang merupakan segala-galanya, kesenangan dan hiburan yang dicari berlandaskan materi. Gaya hidup modern yang murni meniru perilaku barat. Budaya ini sangat tren sekali, masyarakat sudah berubah menjadi masyarakat yang berorientasi hanya kepada materi semata.

Terbukti dengan munculnya bermacam-macam FO (Factory Outlet) di bandung, munculnya tempat-tempat hiburan malam yang mulai menjamur, tempat karoke dan lain-lain. Masyarakat hedonis, cenderung konsumtif. Mereka ingin membeli apa saja yang baru dan menjadi tren. Yang dijadikan pedoman tren mereka adalah apa yang saya namakan kepopuleran seseorang (selebritis).

Mereka meniru, memuja, dan ingin mirip dengan orang yang mereka puja, mereka akan melakukan apa saja untuk dapat menjadi seperti itu. Sehingga mereka mulai kehilangan jati diri masing-masing, mereka terlalu mengidolakan dan ingin menjadi seperti mereka. 
            Budaya punk, sebagaimana yang kita tahu diatas, merupakan budaya yang memberontak terhadap hal-hal seperti ini. Mereka tidak setuju terhadap hedonisme yang hanya berorientasi pada materi yang tidak mempedulikan aspek-aspek sosial masyarakat. Maka mereka mulai membuat komunitas-komunitas punk, yang terkenal seperti komunitas punk di jalan dewi sartika. Mereka mulai melawan dengan menggunakan musik-musik underground yang keras dengan lirik yang berupa umpatan-umpatan terhadap penyimpangan yang terjadi di kota bandung. Salah satu band punk yang terkenal adalah Mesin Tempur dengan lagu mereka Supir Angkot Goblok.

  Pelan-pelan tapi pasti, budaya punk mulai diakui dan dipahami oleh golongan remaja di bandung karena gaya hidup punk merupakan gaya hidup tandingan hedonisme. Ketertarikan remaja bandung pada budaya punk ini akhirnya memunculkan apa yang dinamakan eksploitasi punk. Walaupun sejarah asal muasal berdirinya punk adalah munculnya ketidakpuasan terhadap budaya modern yang egois. Mau tidak mau punk juga harus mengikuti mereka, akhirnya muncul juga Indie-indie recorder yang khusus memproduksi lagu-lagu punk.

Selain lewat lagu, eksploitasi punk pun berlanjut kepada fesyen. Saya contohkan, komunitas punk di jalan Dewi Sartika, yang merupakan kelompok punk terbesar di Jawa Barat bersatu padu untuk membuat Distro. Dan mengubah Plasa Parahyangan yang dahulunya akan bangkrut menjadi pusat distro underground di bandung. Yang menawarkan harga relatif murah dibandingkan dengan factory outlet di jalan Riau. Pelan tapi pasti, masyarakat bandung asli, bukan pendatang mulai mengkikuti tren punk bawah tanah ini.

Tentu saja, walaupun sudah menyimpang dari maksud asli punk dahulu, tapi budaya punk tetaplah merupakan tandingan budaya hedonisme yang marak di kota-kota wisata seperti bandung.

Walaupun ada juga beberapa penyimpangan budaya punk yang merusak, seperti anarkisme yang diadopsi oleh geng motor bandung yang banyak menimbulkan kerugian baik itu nyawa seseorang dan harta benda. Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri)
dan punk memiliki nama sendiri untuk kegiatan anarkismenya yaitu Anarko-punk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1.         Sejarah punk di bandung, menciptakan sebuah budaya punk versi bandung.

2.         Punk menandingin budaya hedonisme dengan cara mereka sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

http://www.indonesiaindonesia.com/f/34349-sejarah-musik-punk/

http://www.fsrd.itb.ac.id/wp-content/uploads/Potret%20Positif%20Punk%20Bandung.pdf

http://punk33metalpower.multiply.com/reviews/item/7

http://pr.qiandra.net.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=70590

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


ShoutMix chat widget